alexametrics

Gandeng IPB, Pemkot Bekasi Awasi Kesehatan Hewan Kurban di 1.399 Titik

loading...
Gandeng IPB, Pemkot Bekasi Awasi Kesehatan Hewan Kurban di 1.399 Titik
ILustrasi petugas sedang memeriksa hewan kurban. Foto: dok/SINDOnews/Komaruddin Bagja
A+ A-
BEKASI - Menjelang Idul Adha, Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi mulai melakukan pengecekan puluhan ribu hewan kurban di wilayahnya. Dalam pengecekan yang dilakukan di 12 Kecamatan itu, pemerintah menggandeng tim dari Fakultas Kedokteran Intitut Pertanian Bogor (IPB).

"Kita sedang mengecek kesehatan hewan kurban yang berada di 1.399 titik yang tersebar di Bekasi," ujar Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kota Bekasi, Momon Sulaeman, Kamis (8/8/2019). Menurutnya, pengecekan dengan menyisir pedagang hewan kurban maupun tempat rumah pemotongan hewan.

Dalam melakukan pengecekan itu, kata dia, pemerintah menyiagakan 50 tenaga medis dokter hewan. Upaya ini dilakukan untuk menjamin kesehatan hewan kurban yang akan didistribusikan kepada masyarakat. "Karena kita ada kerjasama dengan IPB, jadi dokter dan petugas kami langsung ke lapangan," katanya.



Hingga saat ini, Kota Bekasi masih kekurangan dokter hewan. Apalagi angka hewan yang dipotong telah mencapai puluhan ribu. Berdasarkan catatannya, pada tahun 2014 lalu, jumlah hewan kurban yang dipotong mencapai 21.065 ekor, kemudian naik di tahun 2015 menjadi 21.804 ekor, lalu di tahun 2016, melejit menjadi 25.618 ekor.

Sementara pada 2017 lalu naik menjadi 26.432 ekor hewan kurban yang dipotong. Angka warga yang berkurban juga bertambah drastis pada tahun 2018 dimana ada 35.000 hewan kurban yang telah disembelih. "Kehadiran dokter hewan dari IPB, meringankan beban pemerintah," ungkapnya.

Momon mengatakan hewan kurban yang hendak dijual patut diperiksa kesehatannya. Bila tidak diperiksa, dikhawatirkan bakal menimbulkan penyakit bagi masyarakat yang mengonsumsinya. Ada empat jenis penyakit yang kerap menyerang hewan kurban, yakni semi katarak atau pink eye, kudis atau scabies pada kambing.

Kemudian cacing hati pada sapi atau fasciolosis serta pilek atau rhinitis akibat terserang virus. "Keempat penyakit itu paling sering menyerang hewan kurban. Penyebabnya bervariasi, ada yang bawaan sejak lahir, lingkungan yang jorok dan fisik hewan yang memang sedang menurun," jelasnya.

Meski ada beberapa penyebab, namun yang paling dominan adalah lingkungan yang jorok. Menurutnya, pemilik harus rutin membersihkan kandang hewannya setiap hari dan selalu berupaya menjauhkan makanan ternak dengan feses yang dibuang hewan. "Jangan sampai rumput yang dimakan, tercemar oleh fesesnya sendiri," imbuhnya.

Selain mengganggu kesehatan manusia, kata dia, hewan yang terserang penyakit juga tidak dianjurkan oleh syariat Islam untuk dijadikan kurban. Apalagi ada empat syarat bahwa hewan layak disembelih yaitu aman, sehat, utuh dan halal (ASUH). "Kalau syarat itu tidak terpenuhi, hewan tidak boleh dijual atau dipotong sampai sembuh," tukasnya.
(ysw)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak