alexametrics

Berpotensi Kekeringan Ekstrim, Masyarakat Bogor Diminta Hemat Air

loading...
Berpotensi Kekeringan Ekstrim, Masyarakat Bogor Diminta Hemat Air
Seorang warga tengah membawa drum berisi air. Foto/Ilustrasi/SINDOnews
A+ A-
BOGOR - Masyarakat Bogor, Jawa Barat, diimbau untuk mengantisipasi kekeringan dengan cara menghemat air. Pasalnya, musim kemarau tahun ini berpotensi menimbulkan kekeringan ekstrim.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Seksi Data dan Informasi Stasiun Klimatologi BMKG Bogor, Hadi Saputra. Pasalnya, Bogor termasuk satu dari 12 Kota atau Kabupaten di Jawa Barat yang disinyalir dilanda kekeringan ekstrim.

"Penetapan status tersebut didasari atas analisis curah hujan dalam tiga bulan kedepan. Ada 12 wilayah di Jawa Barat yang berpotensi kekeringan ekstrim, salah satunya di Kabupaten Bogor," katanya saat dikonfirmasi, Rabu (24/7/2019).



Selain, Kabupaten Bogor, daerah lain bakal dan sudah mengalami dampak kekeringan akibat kemarau yakni Bekasi, Karawang, Subang, Purwakarta, Sumedang, Indramayu, Cirebon, Majalengka , Cianjur, Sukabumi, dan Indramayu.

"Sedangkan untuk wilayah Bogor sendiri, berdasarkan data kami ada satu wilayah yang mengalami kekeringan cukup parah yakni Kecamatan Jonggol serta beberapa wilayah di Kabupaten Bogor bagian timur," katanya.

Pihaknya mengimbau kepada masyarakat agar dapat mengantisipasinya dengan cara di antaranya tidak melakukan pemborosan air alias menghemat.

"Kemudian disarankan untuk tidak menanam padi atau tumbuhan lain yang membutuhkan banyak air. Sebab potensi kekeringan ekstrim ini diperkirakan akan terjadi sampai November," jelasnya.

Dia mengatakan, kemarau tahun ini bakal lebih kering akibat tidak adanya hujan yang mengguyur di beberapa wilayah tadi. "Biasanya meski di musim kemarau tetap ada hujan, tapi dua bulan ke belakang ini tidak ada hujan sama sekali, terutama di wilayah yang telah dipetakan," ujarnya.

Menanggapi perkiraan cuaca kemarau yang berpotensi kekeringan ekstrim, Pemkab Bogor melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten menetapkan status tanggap darurat.

Terlebih, hingga saat ini dilaporkan sudah ada, tujuh kecamatan di Kabupaten Bogor yang mengalami kesulitan air atau kekeringan parah.

"Status tanggap darurat mulai 1 Agustus sampai 30 Oktober. Berdasarkan data Stasiun Klimatologi BMKG Dramaga, Bogor juga tingkat kekeringan terparah ada di Jonggol," Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Bogor, Dede Armansyah, Rabu (24/7/2019).

Pihaknya mencatat tujuh kecamatan yang mengalami kekeringan parah itu yakni Jonggol, Tanjungsari, Cariu, Tenjo, Gunungsindur, Parungpanjang dan Rumpin.

"Tingkat kekeringannya berbeda. Sehingga perlu ada peningkatan status supaya kita bisa kerahkan seluruh potensi yang ada. Bahkan bekerja sama dengan pihak swasta," paparnya.

Dampak kekeringan yang sering dikeluhkan masyarakat itu diantaranya, kekurangan air bersih dan kebakaran. Maka dari itu, pihaknya juga telah mengingatkan masyarakat untuk mengantisipasinya, khususnya terkait kebakaran agar tidak membakar sampah atau kegiatan lain yang dapat memercikan api besar selama tiga bulan ini.

Sementara itu, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikulturan dan Perkebunan Kabupaten Bogor, Siti Nurianti menyebutkan ada sekitar 600 hektar sawah di wilayah Kecamatan Jonggol dan Cariu yang terancam gagal panen.

"Jika dalam dua bulan ke depan hujan tak kunjung turun. Maka potensi kerugian akibat gagal panen cukup besar yakni mencapai Rp3 miliar," katanya.
(mhd)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak