alexametrics

Wali Murid SDN Pondok Pucung 02 Dukung Pemecatan Guru Rumini

loading...
Wali Murid SDN Pondok Pucung 02 Dukung Pemecatan Guru Rumini
Rumini, guru honorer yang dipecat dari tempatnya mengajar di SDN Pondok Pucung 02, Tangsel.Foto/Hambali/Okezone
A+ A-
TANGERANG SELATAN - Sejumlah wali murid siswa SD Negeri Pondok Pucung 02, Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), beramai-ramai membela sekolah mereka. Para wali murid ini adalah anak-anaknya pernah diajar oleh Rumini, guru honorer SD Negeri Pondok Pucung 02, yang dipecat karena melakukan kekerasan verbal saat mengajar di kelas.

Kepada wartawan, puluhan wali murid itu menyatakan protes kepada Rumini karena cara mengajar wanita berusia 44 tahun ini sangat kasar dan tidak pantas.
Mariamah, wali siswa Kelas 3B mengaku senang Rumini dipecat dari sekolah.

"Anak saya dilempar batu kepalanya hingga berdarah, sampai teman-temannya juga trauma. Bukannya dirangkul, habis dilempar batu, anak saya malah dimarahi," kata Mariamah kepada SINDOnews pada Rabu (3/7/2019).



Dia mengaku kecewa dengan cara Rumini mengajar, karena seorang guru SD itu harus bisa menenangkan murid. Bukannya kasar, dan bermain fisik.
Hal yang lebih buruk dialami oleh anak wali murid Endang Sarali. Dia mengaku, anaknya dijadikan contoh buruk di depan kelas sambil dimaki-maki. Tindakan Rumini ini, membuat sang buah hati tidak mau sekolah lagi.

"Kejadiannya waktu Kelas 4, ada tugas dari sekolah. Dia dijadikan contoh terus dituding Bu Arum sampai trauma, dan enggak mau sekolah lagi. Kalau rugi, saya yang rugi. Anak saya bisa sampai trauma," jelasnya.

Naik kelas 5, anaknya masih mogok pergi ke sekolah. Bahkan hanya masuk dua minggu sekali. Pada Kelas 6, anaknya total tidak mau sekolah. Hingga akhirnya dibujuk agar mau masuk sekolah oleh guru di rumahnya.(Baca: Guru Honorer Dipecat karena Berniat Bongkar Pungli Sekolah di Tangsel)

Terkait sikap mengajar Rumini yang banyak dikeluhkan itu juga dibenarkan oleh wali murid Meli. "Ibu Rumini sering marah-marah di kelas," ujarnya. Setelah mendapat teguran dari wali murid, Rumini menunjukkan sikap yang sedikit lebih lunak. Namun, tetap temperatur dan sesekali emosinya suka meledak-ledak.

Sementara itu, Rumini, yang ditemui saat tengah salat di Masjid Raya Bintaro mengakui dirinya tempramen, suka bicara tinggi kepada anak didiknya. "Mungkin suara saya keras. Soalnya, pola belajar mereka membiarkan anak bermain. Anak naik ke atas meja juga dibiarkan saja. Saya tidak melakukan pembenaran," terang Rumini kepada SINDOnews.

Rumini mengingat ada suatu kejadian, saat itu guru 3B tidak masuk. Dirinya lantas mengambil inisiatif mengajar juga dengan menggabung murid 3A dan 3B.
"Saya ingat ada satu kejadian. Saat itu guru 3B tidak masuk, akhirnya saya gabung 3A dan 3B. Jumlah siswa 64. Saya bawa anak-anak ke lapangan, sekalian praktik menyangkok tanaman," sambung Rumini.

Saat itu, Rumini mengaku kesulitan untuk mengontrol muridnya yang berjumlah 64 orang. Dia juga mengaku, tidak kenal dengan karakter anak muridnya tersebut."Dari mulai dikenal, dia main smackdown dan dorong-dorongan sampai temannya tersungkur, dan anak itu ngobrol, dan lari ke sana ke sini. Kebetulan, yang dicangkok itu pohon mangga," papar Rumini lagi.

Rumini melanjutkan, pada pohon mangga itu ada kerikil-kerikil kecil. Lalu dia ambil satu kerikil dan melempar ke atas ke anak itu, dengan maksud agar diam. Di luar dugaan, kerikil mengenai kepala anak itu.

"Memang ada kerikil-kerikil kecil. Saya ambil kerikil satu, dan mengenai kepala anak itu sampai berdarah. Lalu ramai di paguyuban 3B. Orang tuanya marah, katanya Bu Arum nyambit. Tapi clear akhirnya," ucapnya.
(whb)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak