alexametrics

Pengamat UI Beberkan Alasan Kenapa Jakarta Selalu Diserbu Pendatang

loading...
Pengamat UI Beberkan Alasan Kenapa Jakarta Selalu Diserbu Pendatang
Foto: Ilustrasi/SINDOphoto
A+ A-
JAKARTA - Bersamaan dengan arus balik lebaran, biasanya sejumlah pendatang baru bermunculan di Jakarta. Pengamat menilai kondisi ini disebabkan tidak meratanya pembangunan dan perekonomian di daerah dan di kota.

Pengamat Sosial Vokasi Universitas Indonesia (UI) Devie Rachmawati mengatakan, ada beberapa faktor yang menyebabkan derasnya arus urbanisasi dari tahun ke tahun.
Pertama, karena ketiadaan sumber pendapatan yang memadai di daerah. Kondisi ini mendorong masyarakat secara alamiah mencari sumber penghasilan yang lebih baik.

Mudik menjadi tanda bahwa sebenarnya masyarakat pendatang tidak pernah benar-benar ingin ke kota. "Setiap tahunnya mereka selalu kembali ke kampung halaman untuk sekedar melepas kerinduan dan kepenatan," katanya ketika dihubungi, Kamis (13/6/2019).



Ketika daerah terus menerus abai untuk memastikan fasilitas kehidupan layak, maka angka kemiskinan, pengangguran justru akan berpindah ke kota seperti Jakarta.

Kedua, ilusi yang dibangun tentang kota melalui berbagai tayangan di media konvensional maupun media sosial akan gemilangnya kehidupan kota, telah membangun imaji yang menyilaukan masyarakat di berbagai pelosok tanah air. Sehingga ketika ada kesempatan untuk sekedar melihat dahulu Kota Dan kemudian mencoba peruntungan ekonomi melalui saudara saudara yang mudik ke kampungnya.

"Sebenarnya semenjak era gubernur Basuki, Jakarta tidak lagi memikat karena banyak pengusaha yang menggeser bisnisnya ke kawasan penyangga seperti Bodetabek atau bahkan daerah daerah di Jawa seperti Semarang," ungkapnya.

Menurutnya, tidak heran kalau saat ini angka kemiskinan dan pengangguran di Jakarta berkurang. Karena Jakarta hanya menjadi pit stop bagi orang orang yang ingin sekedar melihat seperti apa kota Jakarta.

Untuk melanjutkan kehidupan mereka akan bergeser ke kawasan penyangga yang masih memungkinkan untuk menampung tenaga kerja yang tidak dibekali ketrampilan khusus.

"Mengingat Jakarta saat ini didominasi dengan bisnis sektor jasa seperti keuangan misalnya yang membutuhkan standard kompetensi tertentu yang relatif sulit di penuhi oleh pendatang," tambahnya.

Selama pusat ekonomi dan bisnis masih berputar di Jakarta maka selama itu pula Jakarta menjadi 'madu' bagi pendatang baru yang ingin mengadu nasib. Sehingga ada baiknya pemerataan pembangunan ekonomi dan bisnis sudah mulai dilakukan.

"Ruh desentralisasi kan pemerataan kesempatan dan penghasilan. Selama masih terpusat di Jakarta maka selama itu pula arus urbanisasi berlangsung," pungkasnya.
(ysw)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak