alexametrics

Nyorog sebagai Ajang Silaturahmi dan Ungkapan Rasa Syukur

loading...
Nyorog sebagai Ajang Silaturahmi dan Ungkapan Rasa Syukur
Berbagai tradisi dilakukan jelang Ramadan, tak terkecuali masyarakat Betawi yang menggelar tradisi Munggahan. Dalam tradisi ini, biasanya seluruh anggota keluarga yang berada di luar kota akan berkumpul di tempat orang tua. Foto/Ilustrasi/SINDOphoto
A+ A-
JAKARTA - Tradisi nyorog dalam menyambut bulan suci Ramadhan saat ini sejatinya konteksnya hanya untuk menjaga tali silaturahmi antar keluarga. Di mana, yang lebih muda datang ke orang yang lebih tua untuk meminta maaf.

Hal itu diucapkan oleh Budayawan Betawi Yahya Andi Saputra. Namun memang, tradisi nyorog juga dilestarikan agar masyarakat khususnya orang asli Betawi yang beragama Islam tidak lupa terhadap sang pencipta atas apa yang telah diberikan, dalam artian harus pandai bersyukur.

"Tradisi nyorog itu untuk kita memperkokoh. Perkokoh tali kekeluargaan. Seraya itu, kita juga bersyukur kepada yang maha kuasa yaitu Tuhan, bahwa kita diberikan keberkahan di hidup ini, kita mohon. Nah, yang paling utama adalah penghambaan kita," kata Yahya belum lama ini.



Yahya menceritakan, zaman dulu, nyorog merupakan ajang pertemuan keluarga sebelum Ramadhan tiba. Sebab, jarak rumah sanak famili mereka kebanyakan saling berjauhan. Sehingga, nyorog dijadikan sebagai ajang untuk bertemu sekaligus bermaaf-maafan antarkeluarga besar.

"Artinya kita ingat kembali bapak kita, engkong kita, dengan cara itu kita bersilaturahim kepada abang-abang kita, ruwahan istilahnya. Kita nyorog ke abang-abang kita atau adik-adik kita yang masih kurang berkecukupan," terangnya.

Yahya menuturkan, awalnya tradisi nyorog memang ada sebelum masuknya Islam ke Indonesia. Nyorog berawal dari sebuah peristiwa ritus baritan atau sebuah upacara adat yang berkaitan dengan kepercayaan masyarakat terkait peristiwa alam. Ritus baritan merupakan refleksi interaksi antara manusia, lingkungan, dan kepercayaan kepada Tuhan.

Nyorog merupakan ritus baritan sedekah bumi. Di mana, pada zaman dahulu, masyarakat sering membawakan makanan atau sesajen untuk dipersembahkan kepada Dewi Sri yang merupakan simbol kemakmuran. Persembahan berbagai sesajen itu lantas dijadikan dimaknai sebagai rasa syukur kepada sang dewi kemakmuran karena telah memberikan tanah, tanaman, dan berbagai bahan makanan kepada kehidupan manusia.

Seiring perkembangan zaman, nyorog lalu menjelma menjadi simbol penghormatan kepada orang-orang yang dituakan. Dalam artian, orang-orang yang berusia lebih muda sowan atau bersilaturahmi ke kediaman para sesepun atau mereka yang dituakan, yakni dengan cara membawakan berbagai makanan.

Konsep tradisi nyorog lanjut Yahya, dijadikan oleh orang asli Betawi sebagai bentuk kesinambungan antar ekosistem yakni, manusia, lingkungan, dan ā€ˇTuhannya. Sehingga, ada siklus yang saling terkait dalam kehidupan yang melibatkan manusia, lingkungan atau alam, dan Tuhannya.

"Jadi, itu terbentuknya equilibrium. Ada perbaikan ekosistem, jadi kalau ada siklus yang rusak kita benerin, yang bolong kita tutupin. Jadi, me-reduce, reuse, recycle. Jadi ya siklus kita ini kita perbaiki," ujar Yahya.
(mhd)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak