alexametrics

2030, Seluruh Warga DKI Jakarta Nikmati Air Bersih

loading...
2030, Seluruh Warga DKI Jakarta Nikmati Air Bersih
Foto/Ilustrasi/Istimewa
A+ A-
JAKARTA - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menargetkan, tahun 2030 air bersih bisa menjangkau seluruh Jakarta. Mencapai itu, PT PAM Jaya melakukan berbagai langkah, mulai dari menyiapkan infrastruktur dan minimalisisasi kerusakan lingkungan.

Hal itu diungkapkan Direktur Utama PT PAM Jaya, Priyatno Bambang Hernowo saat melaksanakan hari air dunia di kantor Kelurahan Kebon Bawang, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (22/3/2019). Ia mengatakan, saat ini baru 40 persen wilayah Jakarta yang menikmati air.

"Itulah kenapa kami menargetkan 2030 seluruh Jakarta bisa menikmati air bersih," kata Priyatno di lokasi.



Sebagai langkah awal, Priyatno mengatakan, pada tahun 2023 nanti, 80 persen wilayah di Jakarta sudah bisa menikmati air. Karenanya pembangunan difokuskan oleh pihaknya di sejumlah wilayah Jakarta serta bekerja sama dengan dua perusahaan swasta Jakarta.

Meski telah bekerja sama. Namun Priyatno mengakui masalah air Jakarta sangat kompleks. Ia mencatat ada empat masalah air di Jakarta. Pertama soal pasokan air, kini pasokan air Jakarta mencapai 22 ribu per detik, 16 ribu di antaranya berasal dari Jatiluhur sementara sisanya berasal dari wilayah Tangerang.

"Nah untuk mencapai 80 persen itu, dibutuhkan pasokan air yang banyak," kata Priyatno.

Selain memasok jumlah air dengan banyak, Priyatno melanjutkan pihaknya akan berkoordinasi dengan sejumlah aparat berwajib. Penindakan terhadap pencurian air akan dilakukan di sejumlah titik.

Termasuk dengan mengedukasi masyarakat yang mengkonsumsi air tanah, sebab konsumsi berlebihan membuat muka tanah alami penurunan. "Saat ini kan setahun 2-3 centimeter. Nah kita upayakan agar hal itu berhenti," tuturnya.

Bila ketiganya telah dilakukan, lanjut Priyatno maka pihaknya mengupayakan pembersihan mutu lingkungan, salah satunya kali. Saat ini, dari 13 kali yang mengalir di jakarta belum ada satupun yang menjadi bahan baku air bersih. Hal ini disebabkan kali kali telah kotor. "Di sini kami membutuhkan peran pemda daerah melakukan pembenahan," lanjutnya.

Mengenai masalah air bersih, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan menyatakan, masalah ini masalah kompleks. Sebab banyak masyarakat Jakarta yang belum menggunakan air bersih.

PT PAM Jaya sendiri sadar, mahalnya harga air menjadi keengganan warga mengkonsumsi air pam. Karena itu, pihaknya kini mencoba mengurangi harga air, bahkan kedepannya, harga air dipatok menjadi Rp33 ribu per bulan atau Rp1.100 per kubiknya.

"Ini jauh lebih murah. Karena kalau Dibanding yang gerobak, mencapai Rp 15 ribu per gerobaknya," tuturnya.

Sikap sama diungkapkan oleh Wali kota Jakarta Utara, Syamsuddin Lologau yang mengakui banyak wilayahnya yang belum tercover air bersih. Karenanya menyambut hari air sedunia, pihaknya meminta PT Aertra untuk membangun jaringan air bersih siap minum di sejumlah kantor pemerintahan miliknya. "Saat ini sedang kami usahakan," kata Syamsuddin.

Selain mendoronga air bersih siap minum di sejumlah kantor pemerintahan. Syamsuddin juga mengakui upaya menciptakan mutu air dilakukan dengan menjaga lingkungan menjadi bersih. Tindak tegas operasi tangkap tangan (ott) dilakukan pihaknya dibeberapa tempat, salah satunya di sejumlah aliran air di Jakarta.

Termasuk dengan kerja bakti massal, kata Syamsuddin, setiap hari Minggu pihaknya melakukan giat ini bersama warga. Ajakan untuk menjaga kali tetap bersih dilakukan pihaknya.

Dari enam kecamatan yang ada di Jakarta Utara, Syamsuddin mencatat sedikitnya ada tiga wilayah yang belum tersalurkan air bersih, yakni Muara Baru, Kali Baru, dan Kamal Muara. Di tempat itu, saluran air nyaris tak tersentuh.

Mencapai itu, Ia mendorong PT PAM Jaya dan PT Aetra untuk membangun instalasi di sana. Dengan demikian air bisa dimanfaatkan oleh warga.

Menanggapi itu, Presiden Direktur PT Aetra, Edy Hari Sasono tak menampik. Ia mengakui ada beberapa lokasi yang belum terpasang instalasi air.

Sejauh ini ia mencatat ada 70 persen wilayah jakarta utara yang sudah terpasang. 30 persen lainnya sedang diupayakan untuk terpasang. "Untuk itu kita butuh dorongan pompa untuk air sampai ke lokasi lokasi yang belum terpasang," katanya.

Meskipun saat ini 70 persen terpasang. Tapi, lanjutnya baru 63 persen warga yang memanfaatkan jaringan air miliknya. Kebanyakan warga memilih menggunakan air tanah karena harganya yang relatif murah. "Makanya kita bersama lurah tengah mengedukasi warga ini," tutupnya.
(mhd)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak