alexametrics

Ini Kata Pengamat Soal Penanganan Sampah di DKI

loading...
Ini Kata Pengamat Soal Penanganan Sampah di DKI
Gerobak sampah. Foto/Ilustrasi/SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Penanganan sampah di Bantar Gebang ataupun dengan Intermediate Treatment Facility (ITF) dalam kota hanya berorientasi proyek semata, kumpul angkut dan buang lantaran ada anggaran yang menggiurkan. Padahal, ada hal yang harus dilakukan.

Pengamat Perkotaan Universitas Trisakti, Nirwono Joga menuturkan, hal yang harus dilakukan itu adalah merubah konsep menjadi penyelesaian persoalan sampah sejak dari sumber secara berjenjang. Artinya, dari tingkat rumah tangga, RT/RW, kelurahan, kecamatan, kota untuk memilih dan memilah organik dan anorganik.

"Kalau hal itu dilakukan, lebih dari 50 persen sampah organik sudah selesai diolah menjadi kompos untuk kebutuhan pupuk di lingkungan; sisanya anorganik, dengan adanya bank sampah akan didapat sampah daur ulang. Sehingga akan tersisa sampah yang benar-benar tidak bisa diolah 10-25 persen dan diangkut secara berjenjang keluar," jelasnya di Jakarta, kamis (20/12/2018).



Di Surbaya, kata Nirwono sudah melakukan hal itu dan sangat menghemat biaya operasional truk sampah, biaya uang bau, uang lewat, biaya kompensasi lingkungan dan kesehatan.

"Setiap kelurahan diberi tantangan untuk menyelesaikan sampahnya jika berhasil diberi bonus lagi. Sehingga ke depan, ada harapan Jakarta akan berkurang sampahnya secara signifikan," pungkasnya.

Diketahui sebelumnya, proyek pembangunan ITF Sunter Mangkrak sejak 2011. Rencana grounbreking pada 2016 pun batal dan akhirnya baru terealisasi pada akhir 2018 ini lantaran ada peraturan presiden (Perpres) yang menjamin investasi dan percepatan pembangunan.
(mhd)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak