alexametrics

Sepanjang 2018, Delapan Pelajar di Jakarta Tewas Akibat Tawuran

loading...
Sepanjang 2018, Delapan Pelajar di Jakarta Tewas Akibat Tawuran
Foto/Ilustrasi/SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Tawuran antarpelajar di Jakarta kembali marak. Tak hanya korban luka, sejumlah nyawa pun melayang akibat tawuran antarsiswa yang terjadi di Ibu Kota.

Berdasarkan data yang dihimpun KORAN SINDO, tercatat ada delapan pelajar tewas karena tawuran di Jakarta. Mereka meninggal dengan sejumlah luka sabetan senjata tajam ketika tawuran terjadi.

Kasus paling menyita perhatian terjadi pada pekan lalu. Melalui video yang tersebar di media sosial (medsos) terlihat tawuran pecah antara SMP 17 Karang Anyar dengan Sekolah Tribuana di jalan Gunung Sahari, Jakarta Pusat, Kamis, 13 Desember 2018 lalu.



Dalam kejadian itu pelajari SMP 17, Wahyu Ramadan (15) tewas dengan luka sabetan senjata tajam. Sehari setelah kejadian, dua pelajar yang diduga menghabisi nyawa Wahyu, berinisial, TG dan DS diciduk tim gabungan Polda Metro Jaya dan Polsek Sawah Besar.

Sedangkan tujuh kasus tawuran antarpelajar yang mengakibat korban jiwa terjadi pada Minggu, 11 Februari 2018 di Ciracas, Jakarta Timur. Dalam kejadian itu dua bocah tewas, yakni pelajar SD, MR (13), dan pelajar SMP, DK (14).

30 Agustus 2018, di Jalan Daan Mogot, Cengkareng, Jakarta Barat, pelajar SMK Tri Arga Kebon Jeruk, Rio (16), tewas bersimbah darah usai tawuran.
Dua hari setelah tewasnya Rio, pelajar SMA, AH (16), tewas setelah tawuran pecah di kawasan Grogol Selatan, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Sabtu, 1 September 2018.

Pada 1 November 2018, tawuran terjadi di kolong tol Jalan Deplu Raya, Bintaro, Jakarta Selatan. Dalam peristiwa itu, pelajar STM Sasmita Jaya Pamulang, Muhammad Kindy (17) tewas dibacok.

Dua pekan setelah tewasnya Kindy, tawuran antara SMP Al Mansyuriah dengan MTS Saadad Tuddarain terjadi di Kembangan Selatan, Kembangan, Jakarta Barat pada Senin, 19 November 2018. Kejadian ini membuat pelajar SMP Al Mansyuriah, DR (15), tewas sehari setelah jalani perawatan di RS Pondok Indah, Kembangan.

Sekjen Komisi Nasional (Komnas) Pendidikan Anak, Andreas Tambah menuturkan, kemajuan teknologi saat ini tak diimbangi mental yang belum siap menyebabkan tawuran terjadi. Ucapan saling ledek medsos menjadi pemicu tawuran.
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak