alexametrics

Tekan Penggunaan Air Tanah, Politikus Ini Sebut DKI Kurang Serius

loading...
Tekan Penggunaan Air Tanah, Politikus Ini Sebut DKI Kurang Serius
Seorang pegawai PDAM berada di salah satu penampungan air baku. Foto/SINDOnews/Dok
A+ A-
JAKARTA - Pelayanan air bersih di Jakarta hingga saat ini baru mencapai sekitar 20.000 liter per detik dari kebutuhan air bersih 26.000 per detik. Jakarta Barat dan Jakarta Utara merupakan dua wilayah yang masih kesulitan mendapatkan air bersih.

Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta, Yuke Yurike, mengaku selama ini belum melihat adanya upaya serius dari Pemprov DKI dalam menekan penggunaan air tanah dan mendistribusikan air bersih ke seluruh pemukiman, khususnya pemukiman masyarakat menengah ke bawah.

Untuk itu, dia mengapresiasi upaya PDAM Jaya yang akan meningkatkan suplai air bersih melalui kerja sama dengan berbagai instansi dan pemerintah daerah mitra DKI. (Baca juga: Jakarta Barat dan Jakarta Utara Kesulitan Air Bersih)



Berdasarkan data Dinas perindustrian dan Energi DKI Jakarta, setidaknya masih ada sekitar 4.231 gedung komersil yang menggunakan air tanah. Penurunan muka tanah pun terjadi hingga 15 centimeter per tahun. Seharusnya, DKI tidak boleh lagi mengizinkan penggunaan air tanah, apalagi untuk komersil. (Baca juga: Tim DKI Mulai Razia Gedung Pengguna Air Tanah di Kawasan Industri)

"Wajar kalau DKI terancam krisis air bersih kalau permukaan tanah menurun dan suplai air bersih tidak bertambah. DKI belum memiliki niat mengelola air bersih untuk masyarakat," ujarnya. (Baca juga: Operasi Penggunaan Air Tanah, DKI Terjunkan 120 Orang Petugas)

Politikus PDIP ini mengakui sulitnya menambah sumber mata air, meski PAM Jaya telah berusaha menambahnya dengan membuat Water Treatment Plant (WTP) dan SPAM, kerja sama dengan daerah lain, dan berencana mengembalikan air limbah menjadi air bersih.

Apalagi upaya yang dilakukan tidak berkelanjutan dan tidak berdampak terhadap masyarakat menengah ke bawah. Tarif langganan air yang mahal dan pelayanan yang tidak maksimal lantaran debit air kecil, bahkan mengering, yang selalu dikeluhkan oleh masyarakat pelanggan air bersih.

"Kalau tidak mampu menambah daerah layanan air bersih ya setidaknya pelanggan, khususnya masyarakat menengah ke bawah, mendapatkan debit air yang cukup dan bertarif murah. Banyak kok di Manggarai dan Tebet tempat saya reses mengeluhkan itu," tegasnya.
(thm)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak