alexametrics

Komplotan Preman Penguasa Lahan di Kalideres Digulung

loading...
Komplotan Preman Penguasa Lahan di Kalideres Digulung
Polisi menggulung komplotan preman yang telah menguasai lahan milik seseorang di Jalan Daan Mogot, KM. 18, RT 11/06, Kalideres, Jakarta Barat, Senin (12/11/2018). Foto/SINDOnews/Yan Yusuf
A+ A-
JAKARTA - Polisi menggulung komplotan preman yang telah menguasai lahan milik seseorang di Jalan Daan Mogot, KM. 18, RT 11/06, Kalideres, Jakarta Barat. Gembong komplotan preman tersebut, BS (58) hanya bisa tertunduk ketika digiring ke Mapolres Jakarta Barat.

Setiap kali beraksi menakuti sejumlah warga, BS selalu menggunakan lengan pendek. Hal ini untuk menunjukan tato tulisan TNI AD agar masyarakat mengira dirinya mantan tentara. “Nggak ada kaitannya dengan tentara. Emang mau di tato aja,” kata BS kepada wartawan, Senin (12/11/2018).

BS merupakan anak buah dari salah satu preman tersohor di Jakarta. Bersama dengan residivis, Bobi (42), ia direkrut untuk mengusai lahan milik PT Nila Alam di Jalan Daan Mogot, KM. 18, RT 11/06, Kalideres, Jakarta Barat.



“Mereka mengintimidasi warga, merusak bangunan, dan menduduki lahan itu,” kata Kapolres Metro Jakarta Barat, Kombes Pol Hengky Haryadi di Mapolres Jakarta Barat.

Hengky menlanjutkan pemberantasan premanisme merupakan komitmennya sejak menjabat sebagai Kapolres. Penindakan dan penyisiran dilakukan jajarannya termasuk menggrebek dua lokasi, di Kalideres.

Dalam penggrebekan itu polisi mengamankan 23 orang, 10 dari PT Nila Alam dan 13 orang dari Perumahan Gardena di kawasan Kalideres. “Mereka dari satu kelompok sama. Satu jaringan dan sengaja di sewa oleh kelompok tertentu untuk menduduki lahan,” kata Hengki.

Sebelum menduduki dua lahan itu, para pelaku lebih dahulu mendatangi secara bergerombol. Mereka menakut nakuti pemilik lahan yang bersertifikat dan membuat kabur pemilik lahan.
(ysw)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak