alexametrics

Keracunan Massal Siswa SDIT

Terungkap, Jarak Septic Tank dan Sumber Air di SDIT Hanya 7 Meter

loading...
Terungkap, Jarak Septic Tank dan Sumber Air di SDIT Hanya 7 Meter
Ratusan siswa di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Pondok Duta, Depok diduga mengalami keracunan.Foto/SINDOnews/Dok
A+ A-
DEPOK - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok telah mengambil sampel air dua kali di SDIT Pondok Duta Cimanggis, Depok. Sampel pertama diambil pekan lalu ketika siswa melaporkan bahwa air yang digunakan untuk wudhu tiba-tiba berbau.

Air yang diambil dari sumber air pertama yang dibuat sekolah tahun 1991. Sampel kedua diambil pada Kamis, 18 Oktober 2018 yang berasal dari sumber air baru yang dibuat tahun 2017. Selain itu dinas juga mengambil sampel feses siswa yang diduga keracunan air.

Di sekolah ini setidaknya ada 156 siswa yang diduga keracunan dengan gejala diare, muntah dan lemas. Atas kejadian tersebut Dinkes menyatakan ini sebagai kejadian luar biasa (KLB). Penetapan status tersebut berdasarkan jumlah siswa yang terpapar.

"Jumlahnya cukup banyak dari data yang kami terima. Sampel sudah kami ambil. Kami akan memantau SDIT Pondok Duta dan memberikan penyuluhan terkait kesehatan pada siswa," ungkap Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok Novarita, Jumat, 19 Oktober 2018 kemarin.

Sejak laporan tersebut, pihak sekolah sudah menutup sumber air lama yang biasa digunakan. Saat ini sumber air yang digunakan adalah sumber air baru.

"Penutupan sumber air tidak boleh digunakan lagi. Kalau membandel tentu akan menjatuhkan kredibilitas sekolah itu sendiri. Cari lahan lain jika ingin membuka saluran air, karena idealnya jarak antara saliran air dan septic tank adalah 10 meter," tandasnya.

Menurutnya, berdasarkan hasil pemeriksaan ke lapangan, secara kasat mata petugas Dinkes menemukan bahwa air memang berbau. Sedangkan untuk warna masih kategori normal. "Dicek petugas bau memang, tapi kadar warna masih normal seperti air biasa. Kecurigaannya antara makanan atau jajanan, dan juga air. Makanya dua-duanya diambil sampelnya untuk diuji," paparnya.

Soal jarak septictank, kata dia, idealnya adalah 10 meter. Karena jika berdekatan maka akan menimbulkan penyakit seperti diare. Sedangkan di sekolah tersebut jarak septic tank dengan sumber air hanya tujuh meter. Menurutnya, hal ini mungkin karenakan ketidaktahuan sekolah tersebut, atau menambahnya jumlah siswa dan berkembangnya sekolah, sehingga harus membuat sumber air baru.

Namun harus tetap diutamakan segi kesehatan dan ideal dari jarak saluran septic tank dengam sumber air. "Kami beri informasi dan tentu penyuluhan kepada sekolah," ucapnya.Novarita melanjutkan, dampak dari dikonsumsinya air tidak bersih adalah diare.

Proses penyembuham dapat dilakukan dengan minum obat diare, dan asupan yang benar. Namun jika ada siswa yang sampai dirawat di Rumah Sakit, Nova mengatakan kemungkinan imun tubuh siswa sedang tidak fit.

Sehingga menyebabkan diare berkepanjangan, buang-buang air menyebabkan cairan berkurang ini yang harus diwaspadai. "Imun tubuh seseorang berbeda, karena itu harus memperhatikan asupan gizi dan makanannya. Untuk siswa SDIT Pondok Duta sendiri sudah ditangani bagi yang melakukan pemeriksaan di puskesmas," tutupnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Pendidikan Kota Depok Hafid Nasir, meminta SDIT Pondok Duta untuk melakukan evaluasi kajian konstruksi sekolah. Terkait ratusan siswanya keracunan air di sekolah saat mencuci tangan. "Ada sesuatu yang perlu dilakukan, evaluasi kajian kontruksi apa bocor sehingga sumber air bersih tercampur dengan saluran septic tank. Karena ini bukan sekolah baru, tapi baru kejadian artinya harus ada kajian seputar lahan di sekolah itu," katanya.

Dikatakan dia, dalam hal ini sebaiknya tidak saling menyalahkan antara pihak sekolah dengan orangtua. Sekolah harus segera melakukan evaluasi di lapangan untuk bisa membuat penjelasan yang logis kepada orangtua, agar dapat memahami. "Kami berharap penyelenggara satuan pendidikan harus bisa bermitra dengan orangtua," ucapnya.
(whb)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak