alexametrics

Proyek Skybridge Tanah Abang Dikerjakan Siang dan Malam

loading...
Proyek Skybridge Tanah Abang Dikerjakan Siang dan Malam
Jembatan Penyeberangan Multiguna (JPM) atau skybridge. Foto/Dok/SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Pengerjaan proyek pembangunan Jembatan Penyeberangan Multiguna (JPM) atau skybridge yang berlokasi di Jalan Jatibaru Raya, Tanah Abang, Jakarta Pusat akan dikerjakan pada siang hari. Ratusan Pedagang Kaki Lima (PKL) di Jalan Jati Baru Raya yang nantinya berjualan di atas JPM hanya akan digeser selama pembangunan berjalan.

Direktur Utama PD Pembangunan Sarana Jaya Yoory C Pinontoan mengatakan, untuk mengejar target pekerjaan selesai pada 15 Oktober 2018, Pemprov DKI Jakarta melalui Perusahaan Daerah (PD) Pembangunan Sarana Jaya akan mengupayakan percepatan penyelesaian pekerjaan di lapangan.

"Kami akan kerjakan siang dan malam. Para PKL di Jalan Jati Baru Raya itu hanya akan digeser mengikuti kondisi pembangunan," kata Yoori melalui pesan yang diterima, kemarin.

Yoori menjelaskan, pelaksanaan baru atas pembangunan JPM Tanah Abang rencananya akan dilakukan pada dua sisi bersamaan, yaitu pada Zona A (sisi selatan Jalan KS Tubun) dan Zona D (sisi utara Jalan Jatibaru Raya). Seperti diketahui, sebelumnya, pekerjaan hanya dilakukan pada satu sisi, yaitu Zona A. Namun, dengan adanya percepatan pada dua sisi tersebut, diharapkan pembangunan JPM Tanah Abang dapat selesai tepat waktu.

Saat ini, lanjut Yoori, pembangunan mencapai 30 persen. Percepatan pembangunan akan lakukan pada masing-masing zona sepanjang 100 meter. Dimana, sisi selatan di Zona A 100 meter, begitu pula di sisi utara di Zona D juga 100 meter. Pekerjaan pembangunan JPM Tanah Abang dibagi dalam dua waktu pengerjaan, yakni pekerjaan siang hari pada pukul 04.00-19.00 WIB atau sekitar 19 jam, sedangkan untuk pekerjaan malam hari dimulai pukul 19.00-04.00 WIB atau sekitar 9 jam.

"Pelaksanaan metode baru pada pembangunan JPM ini juga tidak mengganggu lalu lintas bus Tanah Abang Explorer, bus tetap beroperasi seperti biasa," ujarnya.

Skybridge yang dibangun sepanjang 386,4 meter dengan lebar 12,6 meter itu berada tepat di atas jalan jati baru raya dari depan pintu stasiun hingga pasar Blok F melewati pasar Blok G. Sepanjang skybridge akan ada kios bagi PKL yang masing-masing seluas 1,5x1,5 meter persegi. Pembangunan skybridge sendiri memakan biaya sebesar Rp30 miliar menggunakan anggaran perusahaan (talangan) untuk percepatan proses pembangunannya agar segera terealisasi dengan baik. Nantinya, anggaran tersebut digantikan dengan anggaran daerah yang diajukan dalam perubahan.

Kendati demikian, lanjut Yoory, Skybridge bukan hanya bertujuan sebagai penampungan PKL. Menurutnya, skybridge akan menjadi jembatan integrasi antarmoda transportasi sekaligus tempat bagi pejalan kaki yang hendak menuju kawasan Blok F.

"Ini bukan seperti penampungan PKL, namun jembatan ini kita buat untuk integrasi antarmoda. Nanti dari sini ada kereta, Transjakarta, tempat ini juga bisa dipakai PKL," ujarnya.

Selain itu, akan ada lima titik halte di sekitar rute skybridge tersebut untuk Transjakarta dan moda lainnya. Kehadiran halte ini untuk menunjang Transjakarta Explorer dan moda transportasi umum lainnya.

Pembangunan skybridge ini sendiri tidak menggunakan lahan PT Kereta Api Indonesia (KAI). Yoory mengakui jika konsep skybridge ini belum terintegrasi dengan konsep pengembangan kawasan Tanah Abang yang direncanan PT KAI berupa transit oriented development (TOD).

"Sementara skybridge belum bersinggungan langsung dengan konsep KAI. Jika bersinggungan akan disesuaikan. Kita tidak masuk ke area KAI. Kalau saling menunggu enggak selesai-selesai," pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi, UKM, dan Perdagangan (KUKMP) Provinsi DKI Jakarta, Irwandi mengaku akan melakukan sosialisasi dan mengoordinir para PKL yang berada di sepanjang Jalan Jatibaru Raya untuk bergeser apabila pembangunan JPM tepat berada di atas lokasi dagangan para pedagang.

Selama pengerjaan 100 meter Zona A dan 100 meter Zona D, Suku Dinas KUKMP Jakarta Pusat bekerja sama dengan Satpol PP Provinsi DKI Jakarta serta Camat dan Lurah setempat untuk menyosialisasikan dan mengoordinir pergeseran lokasi dagang para PKL ke area yang belum dalam tahap pembangunan.

"Selama masih dalam pembangunan Zona A dan Zona D, para pedagang itu nanti ada di zona tengah. Saat Zona A dan Zona D selesai dibangun, para pedagang yang sebelumnya berada di zona tengah itu nanti akan bergeser ke Zona A dan Zona D. Prinsipnya, kami menyesuaikan dengan mengoordinir pergeseran lokasi pedagang selama pekerjaan berlangsung," ungkapnya.
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak