alexametrics

Kisah Pemulung di Tangsel yang Tak Sanggup Mudik Selama 15 Tahun

loading...
Kisah Pemulung di Tangsel yang Tak Sanggup Mudik Selama 15 Tahun
Keluarga pemulung ini sejak 15 tahun lalu merindukan kampung halaman. Namun, persoalan ekonomi membuat mereka hanya bisa bermimpi untuk dapat mudik ke kampung halaman. Foto/Okezone/Hambali
A+ A-
TANGERANG SELATAN - Mendekati Lebaran Idul Fitri yang jatuh pada hari Jumat 15 Juni 2018, jutaan masyarakat tercatat berangsur-angsur menjalani tradisi mudik ke kampung halaman masing-masing. Rasa bahagia bercampur tebalnya rindu pun selalu membayangi mereka selama di perjalanan.

Namun, suasana demikian tak pernah dirasakan oleh keluarga kecil, Endra Jaya (51) dan istrinya, Tugina (43). Pasangan suami istri yang bekerja sebagai pemulung barang bekas itu tak pernah bisa merasakan prosesi mudik sejak 15 tahun lalu, lantaran kemiskinan yang dialami.



"Kalau dekat-dekat mau Lebaran begini, kita suka sedih aja, Mas, karena sudah lima belas tahunan ini nggak pernah bisa mudik. Kerjaan saya dan bapaknya cuma mulung, boro-boro mau mikirin hal lain buat Lebaran, bisa ngumpulin untuk beli makan aja sudah Alhamdulillah," tutur Tugina seusai memulung di Jalan Griya Loka, Serpong, Tangerang Selatan (Tangsel), Senin (11/6/2018) malam.

Aktivitas memulung dilakukan Endra dan istrinya sejak puluhan tahun silam. Ketika itu mereka masih sempat menengok keluarga besar Tugina yang berada di Sragen, Jawa Tengah. Beberapa tahun berikutnya, kondisi ekonomi kian sulit sehingga mereka tak bisa menabung untuk mudik.

"Keluarga besar kan di sana semua, jadi dulu pernah mudik, tapi ya makin ke sini makin sulit, sampai Lebaran tahun ini saja kita tetap nggak bisa berangkat (mudik). Kan kalau mudik itu biayanya juga banyak, nggak hanya ongkos saja," tambah dia.

Dari hasil pernikahannya, pasangan Endra Jaya dan Tugina dikaruniai dua orang putri yakni Safitri Jayanti (18) dan Novi Triyanti (10). Malangnya, putri yang tertua, Safitri, tak sempat mengenyam pendidikan sekolah seusai terjatuh dan mengalami gangguan di saraf kepala saat berusia 2 tahun.

"Kalau kakaknya (Safitri), memang nggak sekolah, waktu kecil jatuh dari bangunan lantai 2, disuruh dokter untuk operasi tapi kita nggak punya biaya, ya udah jadi seperti ini. Kadang suka sakit kepalanya, akhirnya nggak bisa sekolah. Kalau adiknya, sekarang sekolah di SDN 2 Rawa Buntu," ucap Tugina.
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak