alexametrics

BPTJ Berharap Ganjil Genap di Tol Tangerang Hemat BBM Rp140 Miliar

loading...
BPTJ Berharap Ganjil Genap di Tol Tangerang Hemat BBM Rp140 Miliar
Petugas kepolisian melakukan sosialisasi uji coba ganjil genap di Tol Tangerang.Foto/SINDOphoto/Yorri Farli
A+ A-
JAKARTA - Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) menyebut kebijakan sistem ganjil genap di Tol Tangerang-Jakarta mengurangi kepadatan menuju Jakarta hingga 50%. Sistem ganjil genap diharapkan dapat menghemat biaya Rp140 miliar dari pengunaan bahan bakar minyak (BBM).

Kepala BPTJ, Bambang Prihartono mengatakan, uji coba sistem ganjil genap di Tol Tangerang menuju Jakarta cukup efektif mengurangi jumlah mobil pribadi. Saat mengecek di Tol Kunciran 2 dan Tangerang Dua, Bambang menuturkan, jumlah kendaraan dari biasanya sebanyak 12.000 kendaraan melintas kini menjadi menjadi 6.000 kendaraan.

"Turunnya sebanyak 50%, kami ingin turunkan dan V/C ratio (volume capacity ratio) 0,5, itu ideal. Kecepatan rata-rata, setelah ganjil genap, 40, 50, dan 60 (km/jam). Sebelumnya kecepatan hanya 20 dan paling tinggi 25 km/jam," ujar Bambang pada Senin (16/4/2018).

Bambang menginginkan, pengguna kendaraan pribadi beralih ke transportasi umum. Karena itu pihaknya telah menyiapkan sebanyak 10 bus premium yang masih gratis. Dan bila dirasa kurang, BPTJ akan menambah 14 bus lagi untuk melayani masyarakat.

Selain itu, penerapan sistem ganjil genap juga ditargetkan bisa menghemat biaya mencapai Rp140 miliar karena memperpendek waktu tempuh dengan penggunaan bahan bakar dan mengurangi kerusakan jalan.

"Jadi, kebijakan untuk mengubah pikiran orang menggunakan angkutan umum dan massal. Kenapa demikian? Sebab, sebentar lagi kita punya MRT dan LRT. Kalau tidak dari sekarang, siapa yang penuhi MRT dan LRT. Kalau tidak, orang susah berpindah dari mobil pribadi karena sudah nyaman sekali," ujar Bambang.
(whb)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak