alexametrics

Memaksimalkan Bangunan Bersejarah dengan Menyulap Venue

loading...
Memaksimalkan Bangunan Bersejarah dengan Menyulap Venue
Memaksimalkan Bangunan Bersejarah dengan Menyulap Venue. (Dok. Koran SINDO).
A+ A-
JAKARTA - Indonesia terkhusus ibu kota Jakarta memiliki begitu banyak bangunan tua bernilai sejarah tinggi. Meski begitu, kenyataan banyak bangunan tersebut seperti tidak dimaksimalkan pemanfaatannya, bahkan cenderung tidak dijaga dan dirawat dengan baik.
 
Revitalisasi terhadap berbagai bangunan tua bernilai sejarah tinggi tentu mutlak dilakukan. Tidak hanya mengedepankan aspek sejarah dan keunikan arsitektur, salah satunya juga bagaimana mampu menyulapnya sebagai venue seni pertunjukan yang menghadirkan berbagai event besar, bahkan bila perlu mendatangkan para pesohor dunia.

Anas Syahrul Alimi, CEO Rajawali Indonesia Communications (RIC), yang telah banyak memanggungkan artis dan musisi baik dalam maupun luar negeri mengatakan, apabila bangunan-bangunan tua itu direvitalisasi tentunya akan memiliki nilai ekonomi tinggi, baik sebagai tempat wisata, budaya, sejarah, maupun tempat menggelar berbagai seni pertunjukan.



Anas mencontohkan, kehadiran maestro dunia David Foster yang menggelar konser di Indonesia beberapa waktu lalu, cukup menjadi sorotan. Bukan hanya soal nama besar David Foster, tapi di mana salah satu tempat konser yang dipakai adalah bekas pabrik gula yang melegenda di Karanganyar, Jawa Tengah, yakni Colomadu.

Bangunan bernilai sejarah yang didirikan pada masa Kerajaan Mangkunegaran IV, pada 1861 itu, kini telah disulap sebagai tempat seni pertunjukan. David Foster, sang hits maker yang telah 16 kali meraih trofi Grammy Awards, sempat tergoda hatinya dengan pesona tempat yang kini bernama De Tjolomadoe tersebut. Bahkan, tempat ini menjadi daya tarik tersendiri bagi penonton.

“Bahkan, dari 2.650 tiket yang kami sediakan untuk konser David Foster di sana sold out ,” ujar Anas Syahrul Alimi, promotor musik sekaligus event consultant pertunjukan David Foster and Friends di De Tjolomadoe, lewat pesan yang diterima KORAN SINDO belum lama ini.

Melihat peluang ataupun potensi ini, pria kelahiran Sidoarjo, 16 September 1976, ini pun berharap konsep tempat konser atau pertunjukan yang memakai bangunan sejarah atau peninggalan Belanda bisa dilakukan juga di Jakarta.

“Tentunya dengan adanya beberapa venue pertunjukan dengan kekuatan nilai heritage serta dikelola secara profesional akan menjadi kekuatan dan daya tarik bagi wisatawan asing dan lokal ke Jakarta,” kata pria yang mengoleksi sejumlah lukisan karya pelukis ternama Joko Pekik dan Agus Suwage ini.
halaman ke-1 dari 5
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak