alexametrics

Begini Kata Psikolog Terkait Suami Bunuh Istri dan 2 Anak Tiri

loading...
Begini Kata Psikolog Terkait Suami Bunuh Istri dan 2 Anak Tiri
Polisi memperlihatkan barang bukti dalam kasus pembunuhan satu keluarga di Tangerang. Foto/Hasan Kurniawan/SINDOnews
A+ A-
DEPOK - Pembunuhan sadis yang dilakukan Mochtar Efendi (40) terhadap istri dan dua anak tirinya diduga akibat pelaku tidak mengetahui bagaimana cara menyelesaikan suatu masalah. Sebagai buktinya usai membunuh, pelaku berupaya melakukan bunuh diri.

Psikolog dari Universitas Pancasila (UP) Aully Grashinta menuturkan, untuk melakukan tindakan pembunuhan biasanya dilandasi oleh motif yang sangat kuat. Saat diindikasikan tidak ada keterlibatan orang di luar rumah maka bisa diduga pada kasus ini lebih pada permasalahan internal keluarga.



"Artinya memang ada persoalan internal dalam keluarga," kata Aully pada Selasa, 13 Februari 2018 kemarin. Dalam pembunuhan sadis, lanjut Shinta, ada dua yang utama yaitu masalah psikologis dan ekonomi.(Baca: Satu Keluarga Dibunuh, Korban Ditemukan Berpelukan dalam Kamar)  

Masalah psikologis misalnya soal harga diri, cemburu, benci dan lainnya. Masalah ekonomi misalnya ingin menguasai harta korban atau sebab lain seperti gangguan jiwa, halusinasi dan kepercayaan (ritual). "Pada masalah ini tampaknya faktor psikologis lebih berperan," ujarnya.

Namun, lanjut Shinta perlu didalami lebih lanjut apakah seluruh korban adalah target atau sebenarnya hanya sang ibu saja yang menjadi target. Sedangkan anak-anaknya menjadi terlibat karena ada di tempat yang sama.(Baca: Gara-gara Kredit Mobil, Suami Tiri Habisi Ema dan 2 Putrinya)

"Yang pasti dorongan untuk melakukan agresi muncul kuat karena ada dorongan atau pemicu yang kuat," paparnya. Kejadian sadis ini sekarang memang banyak terjadi, karena kondisi masyarakat kita sekarang lebih berorientasi pada penyelesaian masalah secara kekerasan bahkan hingga menyebabkan kematian.

"Padahal seharusnya banyak permasalahan yang bisa diselesaikan dengan cara yang lebih baik dan solutif," katanya. Soal percobaan bunuh diri yang dilakukan pelaku, Shinta menuturkan, ini menandakan pelaku benar-benar tidak tahu bagaimana cara menyelesaikan masalah.

Sehingga satu-satunya cara terbaik menyelesaikan masalah menurut pelaku adalah dengan mengakhiri hidupnuya. "Menyesal atau lari dari jerat hukum akan lebih mendorong untuk kabur.Tapi kalau memutuskan bunuh diri juga menunjukkan bahwa sebenarnya pelaku betul-betul pada kondisi tertekan sehingga tidak bisa melihat alternatif pemecahan masalah selain mengakhiri hidupnya," ucapnya.
(whb)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak