alexa snippet

Dishub Melemah, Terminal Bayangan Menjamur di Jakarta

Dishub Melemah, Terminal Bayangan Menjamur di Jakarta
Terminal bayangan. Foto/Ilustrasi/KORAN SINDO
A+ A-
JAKARTA - Ketidaktegasan Dinas Perhubungan (Dishub) harus dibayar mahal. Jarangnya operasi penertiban di jalan, membuat terminal bayangan menjamur. Mereka mengokupansi sejumlah jalanan menyebabkan kemacetan.

Kondisi ini hampir ditemukan di sejumlah jalanan. Seperti di Jalan Latumenten, Jalan Palmerah (pinggir Kali Grogol) dekat Pasar Pisang dan perempatan Palmerah-Petamburan.

Di tempat itu, tanpa pengawasan. Angkutan bus terlihat parkir pinggir jalan, membuat ruas jalan menyempit dan menjadi macet. Keberadaannya pun kian parah setelah tidak ada teguran dari dishub maupun camat.

"Mereka baru datang di atas jam 9 malam. Ngetem, jam 11 baru berangkat lagi," ucap Diko (34), pedagang tak jauh di Pasar Pisang, Palmerah, Jakarta Barat, Sabtu 2 Desember 2017 malam.

Meski tak setiap hari. Namun karena luasnya yang begitu besar Bus Dedy Jaya di dekat pasar itu kian menambah kesemerawutan pasar. Dishub beberapa bulan lalu pernah menderak satu bus di kawasan itu, namun tidak memberikan efek jera.

Selain dekat Pasar Pisang, terminal bus bayangan juga tercatat terjadi di Jalan Palmerah, yakni dekat minimarket seberang bank swasta, dan depan sekretariat Ikatan Dokter Indonesia(IDI) Jakarta. Keberadaan dua terminal itu karena ada pos po di kawasan itu.

Lain halnya dengan di pinggir Jalan Latumenten, Tambora-Grogol Petamburan, Jakarta Barat. Setiap harinya saat malam hari, paling sedikit lima bus Antara Kota Antar Provinsi (AKAP) berjejer di pinggir Jalan Latumenten, Jakarta Barat. Mereka ngetem untuk menunggu penumpang.

Sekalipun terdapat loket tiket, namun karena lokasinya berada di pinggir jalan. Tidak ada retribusi bagi kas pemerintah daerah.

Padahal Perusahaan Otobus (PO) yang berada di lokasi adalah cukup tersohor, mulai Dedy Jaya, Dewi Sri, dan Kramat Jati. Begitu malam, bus ini kemudian semakin banyak, masyarakat yang datang kian tumpah ruah.

Penjaga Loket Bus, Udin (39), mengatakan, dipilihnya malam hari bukan tanpa alasan. Sebab ketika beroperasi siang, bus bisa berisiko diderek Dinas Perhubungan DKI Jakarta.

"Tiap hari ada di sini. Biasanya selepas magrib baru bisa parkir," kata Udin.

Bus yang biasa mangkal di sana adalah jurusan Pemalang, Tegal, dan Pekalongan. Mereka tidak transit di Terminal Kalideres atau Grogol. Bus langsung menuju tujuan melalui Gerbang Tol Jelambar, tak jauh dari lokasi terminal bayangan.

Harga tiket menuju Pemalang seharga Rp80.000 untuk ekonomi dan Rp90.000 untuk bus AC. Penumpang pun akan mendapat tiket resmi PO bersangkutan.
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top