alexametrics

Jakarta Kota Berbahaya bagi Perempuan, Ini yang Akan Dilakukan Anies

loading...
Jakarta Kota Berbahaya bagi Perempuan, Ini yang Akan Dilakukan Anies
Jakarta menempati peringkat ke-9 kota besar dunia yang berbahaya bagi perempuan. Foto/Ilustrasi/SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Pemimpin baru DKI Jakarta berkomitmen menjamin keamanan warganya, termasuk untuk kalangan perempuan. Gubernur Anies Baswedan memastikan sudah menyiapkan sejumlah program untuk mewujudkan kondisi tersebut.

Kepastian adanya perhatian keamanan terhadap perempuan ditetapkan untuk merespons survei Yayasan Thomson Reuters yang menyebutkan Jakarta masuk dalam urutan kesembilan kota besar di dunia yang paling berbahaya untuk perempuan. Anies menyatakan bahwa keamanan perempuan merupakan janji kampanye yang harus diwujudkan.

Poin kampanye dimaksud adalah targetnya membuat Jakarta aman sebagai kota hijau dan kota ramah yang sejuk dan aman bagi siapa pun, termasuk perempuan. Namun mantan Rektor Universitas Paramadina itu menandaskan, upaya mewujudkan keamanan tidak bisa dilakukan Pemprov DKI Jakarta sendiri. Peran serta pihak lain untuk memastikan Jakarta aman sangat dibutuh kan.

"Kita ingin gerakan seluruh warga untuk terlibat di dalam menjaga lingkungan sehingga aman karena seluruh warga terlibat,” kata Anies di Balai Kota, Kamis (19/10/2017).

Untuk mewujudkan keamanan bagi perempuan, termasuk anak-anak, dari berbagai ancaman seperti praktik pelecehan, kekerasan, diskriminasi serta praktik perdagangan manusia (human trafficking), Anies akan mengaktifkan 267 rumah aman, merevitalisasi unit reaksi cepat perlindungan perempuan berbasis aplikasi bekerja sama dengan Kepolisian Daerah Jakarta, dan memberi subsidi bantuan hukum bagi korban. Anies lebih jauh bahkan ingin memuliakan perempuan. Untuk mewujudkan harapan tersebut, Anies akan memberikan bantuan khusus, memberikan cuti khusus bagi suami selama proses kelahiran anak.

Dalam surveinya, Thomson Reuters Foundation menempatkan Jakarta di urutan kesembilan kota besar paling tidak aman untuk perempuan dari 19 kota besar dunia yang disurvei. Hasil itu merupakan nilai rata-rata dari empat indikator utama seperti angka pelecehan seksual, adat istiadat yang merendahkan, akses kesehatan, dan ekonomi yang buruk.

Peringkat disusun berdasarkan jajak pendapat Thomson Reuters Foundation terhadap 380 pemerhati atau aktivis perempuan. Mereka pada intinya menanyakan bagaimana kondisi perempuan di 19 kota besar di dunia, terutama mengenai aksi pelecehan seksual, praktik budaya, akses kesehatan, keuangan, dan pendidikan.
halaman ke-1 dari 3
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top