alexa snippet

Delapan Desa di Kabupaten Bekasi Dilanda Krisis Air Bersih

Delapan Desa di Kabupaten Bekasi Dilanda Krisis Air Bersih
Warga Kampung Gamplok RT 002/05 Desa Ridhomanah, Kecamatan Cibarusah,sedang mengantre mendapatkan air bersih dari BPBD Kabupaten Bekasi, Rabu (13/9/2017).Foto/BPBD Kabupaten Bekasi
A+ A-
BEKASI - Bencana kekeringan terus menghantui warga Kabupaten Bekasi. Ribuan orang setiap hari kesulitan mendapatkan air bersih lantaran sumber air mengering.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi, ada delapan desa di empat kecamatan yang mengalami krisis air bersih. Masing-masing, Desa Ridhomanah, Desa Ridhogalih, Desa Sirnajati, Desa Sindangmulya (Kecamatan Cibarusah).

Selanjutnya, Desa Nagasari, Desa Nagacipta (Kecamatan Serang Baru), Desa Sukadami (Kecamatan Cikarang Selatan), dan Desa Pantai Mekar (Kecamatan Muara Gembong). Total warga yang terdampak kekeringan sebanyak 3.259 kepala keluarga (KK).

"Dampak kekeringan terparah dirasakan warga di Kecamatan Cibarusah dan Kecamatan Serang Baru," kata petugas BPBD Kabupaten Muhammad Furqon saat mendampingi peninjauan kekeringan oleh Komisi IV DPRD Kabupaten Bekasi pada Rabu, 13 September 2017 kemarin.

Dalam peninjauan kekeringan tersebut, BPBD membawa empat tanki air bersih, masing-masing berkapasitas 5.000 liter, ke Desa Rhidomanah dan Desa Rhidogalih, Kecamatan Cibarusah. Menurut Furqon, tidak hanya kali ini saja pihaknya mengirimkan bantuan air bersih.

Petugas hampir setiap hari menyambangi wilayah-wilayah kekeringan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Warga yang terdampak kekeringan memang tidak bisa mengandalkan pasokan air bersih dari pemerintah. Mereka juga melakukan berbagai upaya untuk memenuhi kebutuhan air bersih setiap hari. Salah satunya dengan membuat sebuah sumur buatan atau biasa disebut kobakan.

Ketua RT 02/01, Kampung Ciketuk, Desa Sirnajati, Rohman Gobel mengatakan, kolam buatan atau kobakan yang dibuat warga berada di pinggir kali Cihoe. Letaknya, berada dibawah pemukiman warga dengan kedalaman 30 meter. Menurutnya, warga menggunakan ember atau jeriken untuk mengambil air dari kobakan tersebut.

“Lokasinya lumayan bikin pegal dengan kedalaman 30 meter, bolak-balik dua kali juga sudah capek banget. Lagi juga, air kobakan yang warga ambil cuma bisa buat cuci beras belum buat cuci baju dan buat mandi,” kata Rohman.

Rohman beharap pemerintah lebih sering mengirimkan bantuan air bersih. Sebab, sejak tiga bulan terjadi kekeringan, kampungnya baru sekali menerima bantuan dari kecamatan.
(whb)
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top