alexametrics

Cerita Betawi, Upacara Bebaritan atau Sedekah Bumi di Bambularangan (Bagian ke-1)

loading...
Cerita Betawi, Upacara Bebaritan atau Sedekah Bumi di Bambularangan (Bagian ke-1)
Foto/Ilustrasi/SINDOphoto
A+ A-
BANYAK sekali budaya nenek moyang Betawi yang mulai ditinggalkan oleh keturunannya. Salah satunya adalah upacara Bebaritan atau upacara sedekah bumi yang biasanya dilakukan di atas jembatan beberapa hari setelah hari raya Idul Fitri dan menjelang panen padi.

Upacara ini biasa dilakukan warga yang tinggal di pinggir kali agar tidak diganggu dedemit atau setan penghuni kali. Upacara ini juga biasa dilakukan warga jika ada wabah penyakit yang menyerang kampung mereka.



Dikutip dari blog Mandor Buang, pada era setelah kemerdekaan RI, warga Kampung Bambularangan, Kelurahan Pegadungan dan Cengkareng Barat, serta warga kampung tetangga biasa menggelar upacara Bebaritan agar warga tidak diganggu setan penghuni kali.

Dalam kepercayaan masyarakat Bambularangan, ada beberapa setan yang ditakuti karena kerap 'nempel' ke warga. Biasanya warga yang ketempelan ini akan kesurupan.

Beberapa setan yang cukup dikenal masyarakat sekitar Bambularangan adalah setan Usman kepala buntung, Ki Sirun, Sopiyah, setan gagu, dan setan item. Setiap setan ini memiliki riwayat sendiri yang diketahui warga sekitar.

Seperti cerita setan Usman kepala buntung. Dulunya Usman adalah seorang centeng tuan tanah di Rawa Lele bernama Ceng Kim. Usman tewas dibantai gerombolan garong yang menyatroni rumah Ceng Kim.

Usman dibunuh dengan cara mengenaskan oleh gerombolan perampok yang sangat kejam. Kemudian kepala dan tubuhnya dipisah. Kepalanya dilempar ke kali dan badannya dibuang ke sawah.
halaman ke-1 dari 3
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak