alexa snippet

Jembatan Kota Intan, Saksi Keberadaan Keraton Jayakarta

Jembatan Kota Intan, Saksi Keberadaan Keraton Jayakarta
Sejumlah pengunjung Kota Tua berfoto di Jembatan Kota Intan. Jembatan ini menjadi saksi keberadaan Keraton Jayakarta.Foto/SINDOnews/Ari Sandita Murti
A+ A-
JAKARTA - Jayakarta merupakan nama Jakarta pada masa dahulu dan sebelum Batavia. Namun kini, keberadaan Keraton Jayakarta sudah tak ada lagi, hanya sedikit literatur yang menyebutkan keberadaan pasti keraton tersebut, yakni di sekitaran Jembatan Kota Intan.

Keraton Jayakarta merupakan cikal bakal adanya Batavia yang hingga kini berkembang menjadi kota Jakarta. Keraton Jayakarta, disebutkan berada di kawasan sekitar Jembatan Kota Intan, yang mana wilayahnya cukup luas.

"Berdasarkan literatur yang saya baca, dahulu itu lokasi Keraton Jayakarta berada di De Rivier Hotel, atau Omni Batavia Hotel. Pada zaman dahulu, itu bekas Keraton Jayakarta karena serangan VOC hingga akhirnya hancur," ujar pemandu tur Kota Tua Usman baru-baru ini di Jakarta.

Adapun, keraton tersebut didirikan oleh Sayyid Fadhillah Khan, atau dikenal Fatahillah, dan disebut oleh orang Portugis dengan nama Falatehan serta disebut oleh orang Jawa dengan nama Wong Agung Pasai di bawah kekuasan Banten pada abad ke 15. Kota kecil itu ada setelah Fatahillah yang memimpin pasukan Kesultanan Demak, Cirebon, dan Banten berhasil mengusir pasukan Portugis dari Pelabuhan Sunda Kelapa.

Fatahillah merupakan Pengaren Jayakarta Pertama, disusul oleh Pangeran Tubagus Angke, hingga ke Pangeran Jayakrama. Pelabuhan Sunda Kelapa pun sempat menjadi kawasan yang lebih maju dari Pelabuhan Malaka dari segi perdagangan internasional.

Itu pula yang akhirnya pada abad ke 16, Jayakarta direbut oleh VOC di bawah pimpinan Gubernur Jenderal VOC Jan Pieterszoon Coen.
Pada masa pemerintahan JP Coen, dia membangun kota baru di dekat kota Jayakarta yang hancur itu akibat serangannya.

Hingga akhirnya, Jembatan Kota Intan dibangun pada sekitar tahun 1628, tak lama setelah Keraton Jayakarta diserbu pasukan Belanda itu.
"Dari situlah, awal munculnya kota Batavia yang kini dikenal sebagai Jakarta. Jembatan Kota Intan sendiri memiliki banyak sebutan, salah satunya disebut Hoenderpasarburg atau Jembatan Pasar Ayam karena lokasinya berada di seberang Pasar Ayam penduduk Batavia pada masa dahulu itu," tuturnya.

Adapun Jembatan Kota Intan itu awalnya bernama Jembatan Inggris atau Engelse Brug lantaran di dekat jembatan tersebut dahulunya pernah dibangun benteng pertahanan Inggris. Lantas, jembatan tersebut rusak akibat serangan pasukan Banten dan Mataram dan dibangun kembali oleh VOC dan dinamakan sebagai Hoenderpasarburg.

Lalu, pada sekitar tahun 1655, jembatan tersebut kembali rusak akibat terjangan banjir hingga akhirnya kembali diperbaiki menggunakan material batu dan disebut dengan nama Het Middelpunt Burg atau Jembatan Pusat. Pada masa awal pemerintahan Ratu Juliana, jembatan tersebut kembali berubah nama menjadi Wilhelmina Brug dan kembali berubah namanya menjadi Ophaalsbrug Juliana atau Jembatan Ratu Juliana setelah Ratu Juliana merenovasi jembatan tersebut.

"Disitu, jembatan direnovasi dan diubah fungsinya menjadi jembatan gantung untuk mempermudah lalu lintas perahu dan mencegah kerusakan akibat banjir. Meski sudah sering rusak dan direnovasi, struktur serta gayanya tidak pernah diubah, hingga kini," jelasnya.

Adapun jembatan tersebut merupakan salah satu titik sentral pemerintahan Belanda pada saat itu. Sebab, berbagai komoditi dan aktivitas dilakukan di pusat kota Batavia tersebut, kapal-kapal yang mengangkut segala macam hasil bumi, seperti rempah-rempah, tekstil, dan timah harus melawati jembatan jungkit itu dahulu sebelum ke Pelabuhan Sunda Kelapa untuk dimintai pajak.

"Baru pada masa Kemerdekaan RI, jembatan itu dinamakan menjadi Jembatan Kota Intan, sesuai dengan lokasinya yang mana berada di ujung Bastion Diamond dari Kastil Batavia," katanya.
(whb)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top