alexa snippet

Kendala Pembebasan Lahan Bikin Proyek MRT Molor

Kendala Pembebasan Lahan Bikin Proyek MRT Molor
Salah seorang pekerja berada di terowongan MRT stasiun Senayan, Jakarta beberapa waktu lalu.Foto/SINDOphoto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Masalah pembebasan lahan membuat pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) tahap 1 Lebak Bulus-Bundaran HI menjadi molor. Akibatnya beberapa target konstruksi harus diundur penyelesaiannya.

Berdasarkan data yang dihimpun, tercatat dari 13 rencana stasiun dalam operasi MRT, empat lokasi masih terkendala dengan pembebasan lahan, salah satunya di kawasan H. Nawi, Jakarta Selatan.  Pembangunan stasiun di kawasan sempat terhenti lantaran tiang struktur tidak dapat dikerjakan, terlebih Pengadilan Negeri Jaksel mengabulkan gugatan pemilik tanah yang mewajibkan Pemprov DKI membayar uang senilai Rp60 juta per meter.

Direktur Konstruksi PT MRT Silvia Halim mengakui akibat permasalahan pembebasan lahan, membuat konstruksi pembangunan, khusus pancang menjadi terganggu.  Pada Juni 2017 lalu, dari target pembangunan depo dan jalan layang dengan target 64%, konstruksi pembangunan hanya mencapai 62% saja.

Begitupun dengan pembangunan terowongan dari target 90% hanya mencapai 87%.  Meski demikian, pihaknya optimistis pada 31 Desember 2017 nanti, pembangunan konstruksi depo dan jalan layang mencapai 85% dan pembangunan terowongan mencapai 96%.

Sehingga pada 31 Desember 2018 nanti, pembangunan MRT telah memasuki tahap penyelesaian, atau 98% lebih.  Khusus di Jalan H Nawi, lanjut Silvia, keterlambatan pembangunan tiang pancang disinyalir tidak akan bisa digunakan bersamaan dengan pengoperasian MRT pada Maret 2019 nantinya.

Kini demi mempercepat pembangunan mencapai target, MRT telah melakukan pemasangan rel di tiap jalan layang yang telah tersambung. Pemasangan itupun dibagi menjadi tiga area, yakni area depo, jalan layang, dan terowongan.

"Target kita semua pemasangan semua trek selesai pada 2018 nanti," kata Silvia pada Minggu, 13 Agustus 2017.  Silvi mengatakan, di area Depo Lebak Bulus, presentase pemasangan rel mencapai 10-15%.
Sedangkan di area jalan layang dan terowongan pemasangan baru tahap persiapan dan pengiriman material. Setelah rel nantinya terpasang, barulah pihak MRT akan memasang OCS (overhead catenary system) yang menjadi bagian power system, operasional gerbong kereta. Barulah setelah itu sistem persinyalan di kerjakan.

Silvia menuturkan, pada fase 1 MRT, Lebak Bulus-Bundaran HI yang memiliki panjang 16 kilometer, pembangunan mencapai angka 64,10%, jalan layang 56,86%, depo dan area Lebak Bulus Fatmawati-Cipete Raya 70,66% dan Haji Nawi-Blok A-Blok M-Sisimangaraja 68,19%.

Sementara untuk area terowongan dengan titik transisi dari jalur layang ke area terowongan, mulai dari Senayan, dekat Patung Pemuda-Istora sudah mencapai 83,60%. Bendungan Hilir-Setiabudi mencapai 82,85%. Dan Dukuh Atas - Bundaran HI mencapai 94,32 persen.

Selain karena pembebasan lahan, pembangunan MRT juga terganggu dengan ditemukannya utilitas utilitas saat penggalian. Kondisi ini membuat pembangunan trotoar menjadi terganggu, lantaran utilitas harus direlokasi terlebih dahulu.  "Tapi masih dalam jangkauan wajar. Kita upayakan percepatan percepatan aktivitas dan waktu kerja. Saya sih masih optimis kita mencapai target," tuturnya.



(whb)
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top