alexa snippet

Usut Demo Mahasiswa YAI, Polisi Dalami Keterlibatan Orang Dalam

Usut Demo Mahasiswa YAI, Polisi Dalami Keterlibatan Orang Dalam
Pihak kepolisian tengah mengusut dugaan pihak internal LPT YAI terkait unjuk rasa yang dilakukan ratusan mahasiswa kemarin. (Ilustrasi/dok. Istimewa)
A+ A-
JAKARTA - Pihak kepolisian tengah mengusut dugaan pihak internal Lembaga Pendidikan Tinggi Yayasan Administrasi Indonesia (LPT YAI) terkait unjuk rasa yang dilakukan ratusan mahasiswa kemarin. Guna membuktikan dugaan ke arah sana, polisi juga memeriksa dua orang staf bagian umum UPI YAI bernama Dewi dan Maya.

Hal itu disampaikan oleh Kapolsek Metro Senen Kompol Kasmono. Sambungnya, polisi juga tengah memeriksa empat mahasiswa semester akhir Fakultas Ilmu Komunikasi berinisial PK (22), IB (23), IC (22), dan AW (22), yang telah ditetapkan sebagai tersangka.

"Sampai sekarang kami belum menemukan keterlibatan (orang dalam) itu, namun penyelidikan tetap kami lanjutkan," terang Kasmono ketika di konfirmasi wartawan, Rabu (28/10/2015).

Menyudutnya dugaan adanya oknum kampus yang "bermain" dalam aksi kemarin, terlihat dari keterangan sejumlah tersangka maupun korbanya yang mengaku bahwa aksi keempatnya itu telah berlangsung sejak 2011. Dia juga tidak mengerti, kenapa setelah empat tahun berlangsung, polisi baru menerima laporan dari korbanya.

"Untuk lebih detail kenapa baru terungkap silakan tanya pihak kampus. Kami hanya bekerja sesuai laporan," tegas Kasmono.

Kasmono berjanji, polisi akan tetap bersifat terbuka dalam kasus ini. Artinya, bila nanti dalam proses penyelidikan ditemukan adanya keterlibatan orang dalam kampus, maka penegakan hukum akan langsung dilakukan oleh polisi.

Sementara itu, terkait kasus yang menjerat terhadap empat mahasiswa itu, Kasmono mengatakan, penyelidikan sudah mencapai tahap pengumpulan berkas. Rencananya, lanjut dia, berkas keempatnya akan langsung diserahkan ke pihak Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat bila sudah mencapai tahap P-21.

"Jumat besok ada satu tersangka yang P-21 (berkas perkara lengkap) dan kami akan kirim ke kejaksaan pada hari Senin," jelas Kasmono.

Untuk motifnya, Kasmono menerangkan, keempat tersangka itu memiliki peran masing-masing dalam melakukan aksinya, dengan dalih mampu memberikan cash back bayaranya uang kuliah sebesar Rp500 ribu hingga Rp1 juta. Keempatnya mampu memperdaya sekitar ribuan mahasiswa untuk melakukan daftar ulang kuliah yang besarnya mencapai Rp7 juta per semester melaluinya.

"Informasi yang kami dapat, korban (mahasiswa) ini kan membayar uang kuliah semesteran lewat teman, bukan bayar langsung ke pihak kampus, bayar lewat teman dengan iming-iming cash back," ujar Kasmono.

Kemudian, untuk menutupi aksinya tersebut, kepada mahasiswa yang telah membayar, pelaku menyerahkan tanda bukti pembayaran transferan uang kuliah melalui Bank Mandiri yang belakangan diketahui palsu. Kemudian diupload hingga diberikan testimoni melalui media sosial seperti Instagram.

"Kejadiannya sendiri telah tiga bulan lalu, para korbanya kerap ditanyakan pihak kampus karena dianggap belum bayar kuliah, sekalipun menunjukan bukti (pembayaran) tersebut," ucap Kasmono.

Hasil penyidikan mendapatkan, hasil penipuan itu oleh para pelaku digunakan untuk foya-foya termasuk membeli sejumlah kendaraan seperti mobil Suzuki Ertiga dan Honda Brio, motor hingga beberapa pakaian.
halaman ke-1 dari 2
loading gif
Top