alexametrics

Janjian Ngumpul via WhatsApp, Seorang Pelajar Tewas Tawuran di Kemayoran

loading...
Janjian Ngumpul via WhatsApp, Seorang Pelajar Tewas Tawuran di Kemayoran
Janjian Ngumpul via WhatsApp, Seorang Pelajar Tewas Tawuran di Kemayoran
A+ A-
JAKARTA - Polres Jakarta Pusat meringkus sejumlah pelaku tawuran yang menyebabkan seorang pelajar bernama Yandra (15) tewas dengan luka sabetan senjata tajam. Total ada 10 pelajar yang dibawa dari SMA di kawasan Sawah Besar, Jakarta Pusat.

Peristiwa tawuran pelajar tersebut terjadi di kawasan HBR Motik, Kemayoran pada Selasa 3 Desember 2019 sore lalu. Sebelumnya para pelajar ini janjian berkumpul via WhatsApp untuk mencari sasaran di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat.

Wakapolres Jakarta Pusat AKBP Susatyo Purnomo Condro menjelaskan, dari pemeriksaan terhadap 10 pelajar SMA itu, total ada empat orang yang menjadi tersangka. "Mereka melakukan penganiayaan hingga menyebabkan korban meninggal dunia," kata Susatyo kepada wartawan di Jakarta, Kamis (5/12/2019).



Susatyo menambahkan, keempat pelaku adalah SY, FZ, MR dan AS. Dalam aksinya, mereka memilki peran masing-masing. “Peran peran mereka ada yang menggunakan senjata tajam dan menganiaya langsung. Kami masih mengembangkan kasus ini untuk memburu pelaku lainnya," terang Susatyo.

Menurut Susastyo, tawuran yang terjadi di kawasan HBR Motik ini diawali janjian melalui media sosial WhatsApp. (Baca: Pelajar SMK Yewas Dalam Duel ala Gladiator, Polisi Tetapkan Dua Tersangka)

"Aksi mereka berlangsung terencana karena janjian melalui media sosial. Mereka siapkan senjata dan dari SMA itu mencari sasaran dan muter-muter ketemu pelajar SMA lainnya hingga berlangsung tawuran," ungkap Susastyo.

Benar saja, saat disita ditemukan sebuah celurit yang digunakan melakukan penganiayaan. “Kami baru memeriksa sepuluh orang. Tentu akan berkembang lagi siswa yang terlibat kami akan proses,” imbuhnya.

Dari pemeriksaan sementara, para pelaku tak terpengaruh minuman keras. Namun, aksi tersebut diduga dilakukan karena ada perintah dari seniornya. "Sepertinya sudah tradisi negatif di sekolah. Ada doktrin yang salah dari seniornya untuk berbuat tawuran," papar Susatyo.

Susastyo berharap agar pihak sekolah dan orang tua turut mengawasi murid-muridnya untuk tak berbuat tawuran apalagi hingga membuat orang meninggal dunia.

"Kami imbangi dengan langkah preventif dan pre-emtif, pencegahan. Kami imbau semua pelajar untuk tak saling tawuran. Pihak sekolah juga harus bisa menahan muridnya," kata mantan Kapolres Sukabumi Kota ini.

Para pelaku dikenakan Pasal 170 KUHP dengan ancaman hukuman di atas 12 tahun. "Tapi nanti kita lihat karena mereka statusnya anak-anak," tutup Susatyo.
(mhd)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak