Metro

Jadi tempat mesum, BKT dijaga Satpol PP

Selasa,  26 Februari 2013  −  15:59 WIB
Jadi tempat mesum, BKT dijaga Satpol PP
Ilustrasi (dok:Istimewa)

Sindonews.com - Pelaksana tugas (Plt) Kepala Satpol PP DKI Jakarta Sylviana Murni menempatkan puluhan personel Satpol PP di sepanjang bantaran Kanak Banjir Timur (BKT). Lantaran tempat itu kerap digunakan para pemuda sebagai tempat memadu kasih dan mesum.

“Iya, kita mau menempatkan Satpol PP 24 jam di sana. Saya juga bilang Satpol PP itu kan harus persuasif. Satpol PP harus bekerja mengerti tuntutan kebutuhan masyarakat. Situasi kondisi di lingkungan seperti apa. Ya kalau memang mereka dibutuhkan harus 24 jan, ya harus siap,” kata Sylviana Murni di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (26/2/2013).

Ditambahkan dia, tugas Satpol PP adalah mengamankan dan menertibkan lingkungan, serta menegakkan Peraturan Daerah (Perda) Ketertiban Umum dan peraturan gubernur lainnya. Karena itu, bila masyarakat atau lingkungan membutuhkan Satpol PP 24 jam untuk berjaga, maka pihaknya akan mengatur cara kerja petugas di lapangan.

“Itu kan sudah jadi tugasnya. Dan kalau memang dibutuhkan oleh masyarakat, oleh lingkungan harus 24 jam, nanti kita atur kerjanya per shift. Yang pasti, satu lokasi KBT terdiri dari beberapa kecamatan dan beberapa kelurahan. Nah kita bisa saling sharing untuk menempatkan Satpol PP di KBT,” jelasnya.

Teknis penjagaan bantaran KBT, menurut Sylviana, dengan pendekatan persuasif. Artinya, bila ada warga atau pemuda yang melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan norma agama, Satpol PP bisa menegur mereka. Namun, dengan adanya Satpol PP disepanjang bantaran kali, minimal warga akan segan untuk melakukan hal-hal yang negatif.

“Tetapi agar tidak terjadi bentrokan antara petugas Satpol PP dengan warga dalam pengamanan KBT, saya akan melakukan sosialisasi di tingkat kelurahan mulai hari ini ke lima wilayah. Saya mau tahu persepsinya gubernur, supaya bisa ditangkap langsung sampai tingkat kelurahan,” tuturnya.

Ditambahkan dia, Satpol PP harus menjadi mitra dan sahabat masyarakat. Tidak hanya itu, Satpol PP juga harus menjadi pemecah masalah atau problem solfer. Tetapi juga harus mampu merubah pola pikir masyarakat untuk benar-benar mengikuti peraturan.

“Satpol PP harus melakukan pendekatan humanis, artinya harus manusiawi. Kita harus ajak dialog dengan mencari pemecahan masalahnya. Kalau yang dibawah belum, ya pimpinannya harus kasih teladan seperti itu. Kalau pimpinannya enggak bisa, ya Kepala Satpol PP harus turun,” tegasnya.


(san)

views: 1.218x
shadow