Kaleidoskop Metronews

Catatan kecelakaan tahun 2012

Minggu,  30 Desember 2012  −  14:17 WIB
Catatan kecelakaan tahun 2012
Ilustrasi. (Sindophoto)

KAMPANYE safe riding yang digalakkan Kepolisian Lalu lintas beberapa tahun terakhir, nampaknya membuahkan hasil.  
Sepanjang tahun 2012, angka kecelakaan 7.817 kasus. Angka tersebut, lebih rendah jika dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 8.144 kasus.
 
Artinya, jumlah kasus kecelakaan tahun 2012 mengalami penurunan hingga 3,66 persen atau 297 kasus. Hal ini diungkapkan Kapolda Metro Jaya Irjen Putut Eko Bayuseno.
 
"Situasi Kamtibnas di bidang lalu lintas, untuk kejadian laka lantas tahun 2011 sebanyak 8.144 kejadian, di 2012 menjadi 7.817 kejadian," terangnya.
 
Sementara untuk  korban meninggal juga mengalami penurunan sebanyak 104 orang tahun 2011, dari jumlah tahun 2011 korban meninggal sebanyak 1.005 orang dan tahun 2012 turun menjadi 901 orang.
 
Demikian halnya jumlah korban luka ringan turun sebanyak 383 orang, atau sebesar 6,02 persen. Di tahun 2011 jumlah korban luka ringan mencapai 6.357 orang dan tahun 2012 ada 5.974 orang.
 
Sedangkan, korban luka di tahun 2012 meningkat 0,45 persen atau 2,865 orang, jika dibandingkan dengan tahun lalu yang hanya 2,852 orang.
 
"Kendaraan bermotor yang terlibat laka lantas tahun 2011 mencapai 12.046 unit, turun sebanyak 251 unit atau sebesar 2,08 persen dari tahun 2012, 11.795 unit. Kerugian materilnya naik sebesar 14,55 persen. Pada 2011, kerugian materiil mencapai Rp18.607.782.000, dan 2012 naik menjadi Rp21.316.260.000," tutur Putut.
 
Ia juga menambahkan, untuk penyelesaian perkara lalu lintas mengalami penurunan sebanyak 1.467 kasus atau sebesar 22,16 persen. Tahun 2011 penyelesaian sebesar 6.620 kasus, di tahun 2012 turun menjadi 5.153 kasus.
 
Pengendara di Jakarta Utara meningkat
 
Ruas jalan di Jakarta Utara terkenal dengan kendaraan besarnya, seperti kontainer. Berdasarkan data dari Indonesia Police Watch (IPW), sepanjang tahun 2012 sedikitnya ditemukan 27 pengendara motor tewas, akibat dilindas truk di Jakarta Utara.
 
“IPW menghitung sepanjang tahun 2012 ada 27 kasus pengendara roda dua yang tewas di lindas kontainer di Jakarta Utara. Angka tersebut lebih tinggi, jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya mencapai 15 kasus,” kata Ketua IPW Neta S Pane.
 
Sedangkan, untuk jumlah kecelakaan di Jakarta Utara baik roda dua dan roda empat mengalami penurunan. Sepanjang tahun 2012 sedikitnya 130 kasus korban kecelakaan di Jakarta Utara yang tewas.
 
Angka tersebut lebih sedikit, jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai 158 orang tewas akibat kecelakaan.
 
“Dari 130 kasus kecelakaan yang tewas di jalan, lebih didominasi dengan pengendara roda dua,” katanya.
 
Ada beberapa titik lokasi rawan kecelakaan di wilayah Jakarta Utara. Di antaranya, Jalan Raya Cakung-Cilincing, Jalan Raya RE Martadinata, Jalan Yos Sudarso, Jalan Raya Cilincing dan Jalan raya Pelabuhan.
 
Tahun 2012 banyak kecelakaan beruntun
 
Meski angka kecelakaan di tahun 2012 tercatat menurun, namun kecelakaan didominasi dengan jenis kecelakaan beruntun.
 
Kecelakaan beruntun pertama kali terjadi di Tol Cipularang, Jawa Barat pada Tanggal 22 Desember lalu. Kali ini, kecelakaan beruntun terjadi di Kilometer 85 Tol Cipularang, arah menuju Jakarta.
 
Kecelakaan terjadi antara satu bus yang menghantam truk boks, kendaraan patroli polisi jalan tol, dan Avanza. Akibatnya, satu orang tewas dalam tabrakan beruntun tersebut.
 
Dari Tol Cipularang menuju Jakarta, kecelakaan maut terjadi antara dump truk pelat nomor B 9752 SYT dengan bus Tri Star bernomor polisi R 1696 EA, Sabtu (22/12/2012) pagi lalu.
 
Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun dari Traffic Management Center (TMC) Polda Metro Jaya, kecelakaan terjadi sekira pukul 05.47 WIB, di kilometer (Km) 100 Tol Cipularang-Jakarta.

Akibat kecelakaan lalu lintas ini, 7 korban meregang nyawa. Sementara 19 lainnya mengalami luka berat maupun luka ringan.
 
Kecelakaan beruntun lainnya terjadi di ruas tol dalam kota yang mengarah ke Cawang, Selasa 18 Desember 2012 lalu. Setidaknya empat mobil terlibat dalam kecelakaan tersebut.
 
Keempat mobil itu adalah Toyota Innova B 1911 HP, Isuzu Panther B 1918 AQ, Honda Freed B E2561 FE, dan sedan bernopol B 165 EKI, di KM 05 Tol Gatot Soebroto mengarah Cawang.
 
Di bulan November, kecelakaan beruntun juga terjadi di Jalan Tol Cawang, KM 0. Kecelakaan ini melibatkan lima mobil sekaligus. Belum diketahui sebab kecelakaan tersebut. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.
 
Masih kecelakaan beruntun di bulan Oktober lalu terjadi di ruas Jalan Tol Dalam Kota, tepatnya menjelang Gerbang Tol Cililitan, Kramat Jati, Jakarta Timur.
 
Menurut Irwanto (39), pada saat kejadian dirinya bersama kernet Hendra (22), tengah membawa truk bermuatan galon air mineral menuju kawasan Pesing Jakarta Barat. Tiba-tiba truk yang ada di depan kendaraannya, menabrak dump truk lain yang berada di depannya.
 
Korban yang tidak bisa menghindari kendaraan di depannya terlibat kecelakaan beruntun.
 
"Kecepatan sih hanya 30 kilometer per jam, namun tiba-tiba saya pun sulit menghindari kecelakaan," ungkapnya.
 
Akibat kejadian ini korban sempat terjepit selama 20 menit dan mengalami luka memar di sekujur tubuhnya, di bagian kepala serta di kedua kakinya.
 
Sementara kernet truk bernama Hendara hanya mengalami luka di pergelangan kaki kiri dan bagian punggung. Keduanya pun dilarikan ke RS UKI Cawang, Jakarta Timur, untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.
 
Klaim kecelakaan lalu lintas mendominasi
 
Masih tingginya angka kecelakaan di jalan raya rupanya masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah. PT Jamsostek (Persero) mencatat klaim kecelakaan lalu lintas mendominasi dibanding kecelakaan kerja lainnya.
 
Kepala PT Jamsostek (Persero) Cabang Tanjung Priok Muhammad Akip mengungkapkan, kecelakaan lalu lintas masih mendominasi daftar panjang kecelakaan kerja yang diklaim ke Jamsostek setiap tahunnya.
 
"Dari seluruh klaim kecelakaan kerja, kecelakaan lalu lintas angkanya yang paling tinggi, bisa mencapai 60 persen," ujarnya kepada Sindonews saat ditemui di sela-sela Pelatihan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (PK3) di Hotel Mercure Ancol, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Mengingat tingginya jumlah klaim kecelakaan lalu lintas tersebut, menurut Akip, perlu disosialisasikan secara serius kedepannya kepada seluruh pekerja, yang tercatat sebagai peserta Jamsostek.
 
Pasalnya, kecelakaan lalu lintas selalu terjadi di luar lingkungan kerja dan umumnya terjadi cukup jauh dari lokasi tempat bekerja.
 
"Nah, kalau begitu (kecelakaan lalu lintas) di luar kontrol perusahaan. Kalau yang kejadian di luar kantor berarti kan yang bersangkutan (pekerja itu sendiri), jadi itu yang kedepannya harus disosialisasikan," imbuhnya.
 
Kendati terjadi di luar lingkungan kerja, Akip menyatakan, Jamsostek tetap akan memberikan pelayanan bagi tenaga kerja yang mengalami kecelakaan di jalan raya.
 
Hal ini mengingat tugas dan fungsi perusahaan sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang ditunjuk pemerintah sebagai pelindung tenaga kerja.
 
Komitmen perlindungan tenaga kerja tersebut terlihat dari besarnya jumlah klaim kecelakaan kerja yang dibayarkan ke peserta dan terus meningkat setiap tahunnya.
 
“Tahun 2011, ada 1.169 kasus dan jaminan yang dibayarkan Rp6,9 miliar. Tahun 2012, kasusnya lebih sedikit tapi jaminan yang dibayarkan lebih besar. Sampai Agustus 2012 ada 659 kasus dan jaminan yang dibayarkan Rp7,6 miliar," tutur Akip.


(stb)

views: 18.680x
shadow