Metro

Sopir bus tabrakan maut masih sulit bicara

Ricky Susan

Kamis,  28 Februari 2013  −  20:39 WIB
Sopir bus tabrakan maut masih sulit bicara
Ruang tempat sopir bus dirawat (foto:Ricky Susan/Koran Sindo)

Sindonews.com - Pandi (45), sopir bus pariwisata Mutiara Mega Utama, tersangka kasus tabrakan maut yang menewaskan 17 orang peziarah di Jalan Raya Puncak, Kampung Ciloto, Desa Ciloto, Kecamatan Cipanas, pada Rabu 27 Februari 2013, masih belum bisa diajak bicara.
   
"Pasien menderita luka di bagian wajah, punggung, dan kedua tangannya. Beberapa luka mendapat jahitan. Sejak tiba di rumah sakit hingga sekarang, dia sadar. Namun agak sulit berkomunikasi,” kata Pelaksana Humas RSUD Cianjur Dicky Wangsawidjaja, Kamis (28/2/2013).

Ditambahkan dia, saat ini sejumlah korban luka-luka yang mendapat perawatan di RSUD Cianjur, sudah dipindahkan ke Rumah Sakit Sentra Medika di Cibinong dan Cisalak. Pemindahan 27 korban luka dari RSUD Cianjur, itu berlangsung sejak kemarin, sekira pukul 21.00 WIB, hingga sore ini.

"Pemindahan tersebut, kata dia, merupakan permintaan dari Bupati Bogor Rahmat Yasin dan persetujuan keluarga korban," ungkapnya.

Dilanjutkan dia, saat dipindahkan, kondisi korban cukup stabil. "Baru saja saya mendapat kabar dari rumah sakit rujukan, kondisi mereka membaik. Korban yang dirawat di RS Sentra Medika Cibinong sebanyak 19 orang, dan delapan lainnya di Cisalak. Di sini (RSUD Cianjur) hanya tinggal sopir,” ungkapnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, bus pariwisata menabrak tebing di Puncak. Dalam tabrakan maut itu, 17 orang dinyatakan tewas, sementara puluhan orang lainnya mengalami luka-luka.

 

(san)

shadow