Hot Topic Mana Cocok, ERP atau Ganjil-genap?

Pilgub DKI 2012

G20S/DKI tentukan kemenangan putaran dua

Hasan Kurniawan

Senin,  17 September 2012  −  07:23 WIB
G20S/DKI tentukan kemenangan putaran dua
Fauzi Bowo dan Joko Widodo (dok:Istimewa)

Sindonews.com - Jelang pemungutan suara putaran kedua Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta, pada 20 September 2012, masing-masing pasangan calon mulai mengerahkan kekuatan menggalang dukungan.

Direktur Eksekutif The Political Literacy Institute Gun Gun Heryanto mengatakan, berdasarkan hasil perolehan suara putaran pertama, ada sekira 36,38 persen suara yang tidak ikut berpartisipasi. Suara ini yang akan menjadi sasaran rebutan para kandidat dalam gerakan 20 September atau G20S/DKI.

"Pemenang Pilgub DKI kali ini, akan ditentukan oleh G20S/DKI. Maksudnya, siapapun yang mampu memalingkan perhatian kelompok pemilih yang belum memutuskan (undecided voters) inilah yang akan menang di akhir perburuan suara," ujar Gun Gun saat berbincang dengan Sindonews, Senin (17/9/2012).

Ditambahkan dia, karakter pemilih Pilgub DKI dibagi menjadi tiga golongan. Pertama, loyalis kedua pasangan yang konfigurasinya tidak berbeda jauh seperti putaran pertama.

"Kedua, kelompok swing voters, artinya di putaran pertama mereka memilih kandidat gubernur lain dan di putaran kedua harus menentukan pilihan baru. Angka yang diperebutkan pada golongan ini cukup besar, mencapai 23 persen," terangnya.

Ketiga, lanjut Gun Gun, adalah kelompok yang sama sekali belum memutuskan pilihan, karena beragam pertimbangan. Komposisi golongan ketiga ini biasanya diisi oleh kelompok pemilih yang secara kelas sosial ekonomi dan pendidikan berasal dari kelas menengah atas.

"Kelompok ini pula yang sebelumnya menjadi kunci kemenangan Jokowi-Basuki di putaran pertama. Dengan demikian, asumsi bahwa putaran kedua akan ditentukan oleh G20S/DKI sepertinya akan terkonfirmasi," terangnya.

Kendati begitu, dalam G20S/DKI, faktor kemenangan akan ditentukan oleh kecepatan masing-masing pasangan calon dalam meyakinkan suara-suara tak bertuan tersebut. Sebab, hingga saat ini perolehan suara antara Fauzi Bowo (Foke)-Nachrowi Ramli (Nara) dan Joko Widodo (Jokowi)-Basuki T Purnama (Ahok) sangat tipis.

Berdasarkan survei Survei Soegeng Sarjadi School for Government (SSSG) memprediksi Jokowi-Basuki memperoleh 36,74 persen unggul tipis dari Foke-Nara yang diprediksi mengantongi 29,47 persen. Sementara Lembaga Survei Indonesia (LSI) bekerjasama dengan Majalah Tempo memprediksi 44,7 persen untuk Jokowi-Basuki dan 45,6 persen untuk Foke-Nara.

Seperti diketahui, Jokowi-Ahok di putaran pertama mengantongi 42,60 persen dan Foke-Nara 32,05 persen, sisanya adalah pemilih kandidat lain sebesar 23,35 persen. Sedang di luar itu, ada kelompok yang tidak berpartisipasi dalam putaran pertama sebesar 36,38 persen. Suara inilah yang akan menjadi sasaran G20S/DKI.

 

(san)

shadow